Ancaman \inflasi

 Presiden Bank Dunia (World Bank) David Malpass meminta seluruh negara di dunia mewaspadai risiko stagflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Stagflasi merupakan kondisi inflasi dan kontraksi ekonomi terjadi secara bersamaan. Inflasi melonjak, sedangkan pertumbuhan ekonomi menurun dan angka pengangguran meningkat. Biasanya, stagflasi terjadi saat resesi ekonomi terjadi di suatu negara.

Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda mengatakan risiko stagflasi juga menghantui Indonesia. Pasalnya, kenaikan harga BBM cukup memukul daya beli, sementara inflasi RI terus meningkat.

Baca artikel CNN Indonesia "Meski Ekonomi Tumbuh, Ancaman Stagflasi Tetap Hantui Indonesia" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20221004152206-532-856249/meski-ekonomi-tumbuh-ancaman-stagflasi-tetap-hantui-indonesia.
 

"Hingga akhir tahun kami prediksi inflasi bisa mencapai angka 8 persen lebih. Cukup terbuka peluang terjadinya stagflasi," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Selasa (4/10).

Inflasi tahunan Indonesia kembali meningkat pada September lalu. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi mencapai 5,95 persen, tertinggi sejak Oktober 2015 yang saat itu tercatat 6,25 persen (yoy). Sedangkan, inflasi bulanan sebesar 1,17 persen.

Nailul menuturkan umumnya inflasi meningkat ketika perekonomian sedang bergejolak. Selain itu, lonjakan permintaan barang dari masyarakat pun biasanya menimbulkan mendorong inflasi (demand pull inflation).

"Namun pada inflasi kali ini, tidak hanya dari demand, tapi dari sisi cost juga. Ini yang jadi berbahaya," imbuhnya.

Lihat Juga :
Ridwan Kamil soal Nikel dari Sulawesi: Hati-hati dengan China
Oleh karena itu, Nailul mengingatkan pemerintah untuk bisa menjaga daya beli masyarakat, sehingga ancaman stagflasi bisa terhindarkan. Menurutnya, hal ini penting mengingat ekonomi Indonesia 50 persen berasal dari konsumsi.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan pemerintah, seperti lewat bantuan langsung tunai (BLT) dan tidak menaikkan kembali harga yang diatur pemerintah, yakni BBM hingga tarif listrik.

"Jangan ada lagi kenaikan tarif listrik, ataupun model-model kenaikan harga lainnya," jelasa Nailul.

Sementara itu, Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Mohammad Faisal memandang risiko stagflasi masih jauh dari Indonesia. Sebab, peningkatan inflasi tidak lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi.

Lihat Juga :
ANALISIS
Hiperinflasi Masih Jauh, Stagflasi yang Sudah di Depan Mata
"Jadi berbeda dengan ciri-ciri stagflasi di mana inflasi sangat tinggi itu sedemikian rupa, sehingga menahan laju pertumbuhan ekonomi, bahkan membuat terjadi kontraksi," ujarnya.

Meski begitu, berdasarkan data terakhir dari BPS, pertumbuhan ekonomi RI pada kuartal II 2022 tumbuh sebesar 5,44 persen (yoy). Dari sisi produksi, lapangan usaha transportasi dan pergudangan mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 21,27 persen.

Sementara dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 19,74 persen.

Menurut Faisal Indonesia memiliki pasar domestik yang besar. Selain itu, ketergantungan RI terhadap pasar internasional pun tidak begitu signifikan. Karenanya, ancaman resesi global pun tidak akan terlalu berdampak pada Indonesia.

"Kalau melihat kondisi sekarang dan kecenderungannya ke depan, saya rasa Indonesia masih jauh dari itu (stagflasi) karena salah satu penyebabnya kita punya market domestik yang luas," imbuh Faisal.

Baca artikel CNN Indonesia "Meski Ekonomi Tumbuh, Ancaman Stagflasi Tetap Hantui Indonesia" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20221004152206-532-856249/meski-ekonomi-tumbuh-ancaman-stagflasi-tetap-hantui-indonesia.
 


5 Tanda Dunia Bakal Jatuh ke Jurang Resesi
CNN Indonesia
Selasa, 04 Okt 2022 11:23 WIB
Bagikan :  

Ekonomi dunia diperkirakan masuk ke jurang resesi pada 2023. Saat ini, sudah terlihat tanda-tandanya. (AFP/WILLIAM WEST).

Jakarta, CNN Indonesia -- Menteri Keuangan Sri Mulyani memprediksi ekonomi dunia bakal jatuh ke jurang resesi pada tahun depan. Hal ini lantaran suku suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara semakin tinggi.
Ani, sapaan akrabnya, memastikan kebijakan itu akan menghambat laju pertumbuhan ekonomi, sehingga ancaman resesi semakin sulit dihindari.

"Kenaikan suku bunga cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023," tutur Ani dalam konferensi pers, Senin (26/9).


Lihat Juga :
Harga Pertamax Turun ke Rp13.900 per liter, Pertalite kapan?
Tak hanya Sri Mulyani, Bank Dunia (World Bank) juga memproyeksi sejumlah negara resesi pada 2023. Dalam laporan Global Economic Prospect June 2022 (GEP), Bank Dunia menjelaskan tekanan inflasi yang begitu tinggi di banyak negara tak sejalan dengan pertumbuhan ekonomi.

Sejumlah negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang diprediksi ikut terseret ke dalam jurang resesi akibat inflasi yang terus meningkat.

Lantas apa saja tanda-tanda negara mengalami resesi?

1. Dolar AS Menguat
Dolar AS berperan besar dalam ekonomi global dan keuangan internasional. Penjelasan sederhananya dapat dilihat dari dampak kebijakan bank sentral AS The Federal Reserves (The Fed).

Ketika The Fed menaikkan suku bunga acuan seperti yang dilakukan sejak Maret lalu hingga saat ini, maka investor di seluruh dunia akan lebih tertarik pada dolar AS.

Lihat Juga :
Daftar Negara Asean yang Tak Deg-degan 'Digertak' Resesi
Dalam iklim ekonomi apa pun, dolar AS dipandang sebagai tempat yang aman untuk menyimpan uang. Dalam kondisi yang tak stabil seperti pandemi atau perang, investor bahkan memiliki lebih banyak insentif untuk membeli dolar, biasanya dalam bentuk obligasi pemerintah AS.

Penguatan dolar menjadi keuntungan bagi warga AS yang bepergian ke luar negeri, tetapi membebani hampir semua orang karena nilai tukar mata uang lain anjlok.

Nilai poundsterling Inggris, euro, yuan China, yen Jepang dan lainnya jatuh sehingga membuat negara-negara mengeluarkan biaya yang lebih mahal untuk mengimpor barang-barang penting seperti makanan dan bahan bakar.

Penguatan dolar juga menciptakan efek destabilisasi untuk Wall Street karena banyak dari perusahaan S&P 500 melakukan bisnis di seluruh dunia. Menurut perkiraan dari Morgan Stanley, setiap kenaikan 1 persen indeks dolar berdampak negatif 0,5 persen pada pendapatan S&P 500.

Lihat Juga :
Rincian Tarif Tol Serpong-Balaraja yang Berlaku Mulai Hari Ini
2. Daya Beli Konsumen AS Turun
Penggerak utama ekonomi AS adalah belanja. Namun, tingkat belanja konsumen mulai menurun setelah kenaikan hampir semua barang selama dari satu tahun. Ditambah lagi, upah tidak ikut naik.

Suku bunga The Fed yang meningkat mendorong tingkat hipotek ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade dan mempersulit bisnis untuk tumbuh. Sementara itu, konsumen mendapatkan pukulan dari suku bunga pinjaman yang tinggi dan harga yang tinggi, terutama dalam hal kebutuhan seperti makanan dan perumahan.

3. Bisnis Mulai Terguncang
Bisnis telah berkembang pesat di seluruh industri untuk sebagian selama sebagian besar masa pandemi Covid-19. Sebagian besar bisnis mampu membebankan biaya yang lebih tinggi kepada konsumen untuk melindungi margin keuntungan.

Namun, keuntungan sangat besar yang diperoleh suatu perusahaan mungkin tidak akan bertahan lama.

Pada pertengahan September lalu, salah satu perusahaan yang kekayaannya menjadi seperti penentu arah ekonomi mengejutkan investor. FedEx yang beroperasi di lebih dari 200 negara secara tak terduga merevisi prospeknya dan memperingatkan bahwa permintaan melemah serta pendapatan kemungkinan akan turun lebih dari 40 persen.
 
CEO FedEx Raj Subramaniam mengatakan kondisi itu bisa menjadi tanda resesi global.

"Kurasa begitu (tanda resisi). Angka-angka ini, mereka tidak menandakan dengan baik," ujarnya, dikutip dari CNN Business, Selasa (4/10).

FedEx bukan satu-satunya perusahaan yang mulai terguncang. Minggu lalu, saham Apple anjlok setelah Bloomberg melaporkan perusahaan membatalkan rencana untuk meningkatkan produksi iPhone 14 setelah permintaan di bawah ekspektasi

Baca artikel CNN Indonesia "5 Tanda Dunia Bakal Jatuh ke Jurang Resesi" selengkapnya di sini: https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20221004111234-532-856079/5-tanda-dunia-bakal-jatuh-ke-jurang-resesi.
opak
 -------------

Comments