Persiapan UKW

 Mempersiapkan diri untuk ujian praktek ukw yang akan dilaksanakan tanggal 6 Oktober besok dari jam 08.00 sampai jam 03.00 yang menyangkut beberapa materi dan pretest ada sekitar 6 sub bagian yang akan diberi tes harus mengacu kepada orang-orang pers namun 40 coba dilacak isinya kalau lulus akan berangkat ke Pekalongan tanggal 13 sampai 12 Oktober untuk ukw sebenarnya doakan berhasil


Jadwal 6 october 
Sorenya langsung membuat persiapan acara seminar jam 05.00 sore sudah di FT UI untuk offline-nya mudah-mudahan patah jadi bisa masuk ke sistem tanpa halangan

aku persiapan jan 5.42 hari ini\


sesi 3 

Teknik wawancara 60 menit

Penulisan berita :stright news ,feature , tajukk  (50 menit) 


Tujuan Wawancara

Tujuan wawancara antara lain:

  1. Konfirmasi (penyeimbang)
  2. Melengkapi data-data yang kurang detil
  3. Mendorong narasumber agar berbicara dan mengungkapkan fakta
  4. Menyambung kesenjangan hubungan narasumber dengan media.

Kegagalan wawancara sering kali disebabkan tidak jelasnya tujuan untuk apa sebuah wawancara dilakukan –apakah untuk mendapatkan kejelasan fakta, atau sekedar menggali opini dari narasumber.


Model Wawancara

Model wawancara ada dua jenis:

1. Wawancara langsung

Yaitu wawancara dengan bertatap muka (face to face) langsung dengan narasumber.

2. Wawancara tidak langsung

Yaitu wawancara tanpa bertemu langsung secara fisik, tapi menggunaan perantara (media), misalnya telepon, chatingmedia sosial, dan email (wawancara tertulis).

Jenis-Jenis Wawancara

Dalam literatur jurnalistik dikenal banyak jenis wawancara, antara lain:

1. Wawancara berita

Wawancara berita (News-peg interview) adalah wawancara yang dilakukan untuk memperoleh keterangan, konfirmasi, atau pandangan interviewee tentang suatu masalah atau peristiwa.

2. Wawancara pribadi

Wawancara pribadi (personal interview), yaitu wawancara untuk memperoleh data tentang diri-pribadi dan pemikiran narasumber –disebut juga wawancara biografi.

3. Wawancara eksklusif

Wawancara eksklusif (exclusive interview), yaitu wawancara yang dilakukan secara khusus –tidak bersama wartawan dari media lain.

4. Wawancara sambil lalu

Wawancara sambil lalu (casual interview), yaitu wawancara “secara kebetulan”, tidak ada perjanjian dulu dengan narasumber, misalnya mewawacarai seorang pejabat sebelum, setelah, atau di tengah berlangsungnya sebuah acara.

5. Wawancara jalanan

Wawancara jalanan (man-in-the street interview) –disebut pula “wawancara on the spot”–  yaitu wawancara di tempat kejadian dengan berbagai narasumber, misalnya di lokasi kebakaran.

6. Wawancara tertulis

Wawancara tertulis –dilakukan via email atau bentuk komunikasi tertulis lainnya.

7. Wawancara  “cegat pintu”

Wawancara  “cegat pintu” (door stop interview), yaitu wawancara dengan cara “mencegat” narasumber di sebuah tempat, misal tersangka korupsi yang baru keluar dari ruang interogasi KPK.


Teknik Wawancara

Para praktisi jurnalisme (wartawan) umumnya sependapat, tidak ada kiat mutlak wawancara jurnalistik.  Setiap wartawan emiliki trik atau cara tersendiri guna menemui dan memancing narasumber untuk berbicara.

Namun demikian, secara umum teknik wawancara meliputi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pasca-wawancara.

1. Tahap Persiapan Wawancara

  1. Menentukan topik atau masalah
  2. Memahami masalah yang ditanyakan — wawancara yang baik tidak berangkat dengan kepala kosong.
  3. Menyiapkan pertanyaan.
  4. Menentukan narasumber
  5. Membuat janji –menghubungi narasumber atau “mengintai” narasumber agar bisa ditemui.

2. Pelaksanaan Wawancara

  1. Datang tepat waktu –jika ada kesepakatan dengan narasumber.
  2. Perhatikan penampilan –sopan, rapi, atau sesuaikan dengan suasana.
  3. Kenalkan diri –jika perlu tunjukkan ID/Press Card.
  4. Kemukakan maksud kedatangan –sekadar “basa-basi” dan menciptakan keakraban.
  5. Awali dengan menanyakan biodata narasumber, terutama nama (nama lengkap dan nama panggilan jika ada). Bila perlu, minta narasumber menuliskan namanya  sendiri agar tidak terjadi kesalahan.
  6. Catat! Jangan terlalu mengandalkan recorder.
  7. Ajukan pertanyaan secara ringkas.
  8. Jadilah pendengar yang baik.

Ingat, tugas wartawan menggali informasi, bukan “menggurui” narasumber, apalagi ingin “unjuk gigi” ingin terkesan lebih pintar atau lebih paham dari narasumber.

Pantangan dalam Wawancara:

  1. Pertanyaan  tidak   bersifat   “interogatif “ atau terkesan memojokkan.
  2. Hindari pertanyaan “yes-no question” –pertanyaan yang hanya butuh jawaban “ya” dan “tidak”.
  3. Gunakan “mengapa” (why), bukan “apakah” (do you/are you). Jawaban atas pertanyaan “Mengapa Anda mundur?” tentu akan lebih panjang ketimbang pertanyaan “Apakah Anda mundur?”.
  4. Hindari pertanyaan ganda! Satu pertanyaan buat satu masalah.

3. Pasca-Wawancara

Sesegera mungkin, transkrip hasil wawancara. Jangan tunda, mumpung “rekaman wawancara dalam otak” masih segar.

Demikian Teknik Wawancara Jurnalistik dan Jenis-Jenisnya. Wasalam. (www.romeltea.com).


Referensi

  1. Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Praktis untuk Pemula, Rosdakarya, Band--ung 1999.
  2. Asep Syamsul M. Romli, Jurnalistik Terapan, Batic Press, Bandung, 2001.
  3. Asep Syamsul M. Romli, Kamus Jurnalistik, Simbiosa, Bandung, 2010.

 (waw)

Menga tertarik dengan profesi reporter?

Reporter adalah cita-cita saya sejak kecil. Waktu itu, saya pernah melihat ada satu jurnalis yang melakukan live report dengan baik meskipun ada di lokasi & situasi yang cukup berbahaya. Mereka juga sangat pintar dan pandai berbicara. Sejak saat itu saya sangat ingin menjadi seperti mereka.

Becoming a reporter has been my dream since I was a kid. One day I’ve witnessed a journalist who tried their best to present a live report in a quite dangerous place & situation. They are also smart and very articulate. That was why I’ve wanted to become one since then.

Jadi, selain menceritakan alasanmu, kamu juga bisa membahas pemahamanmu tentang kelebihan dan tanggung jawab dari profesi jurnalistik yang satu ini.

Jadi kamu bisa memberikan alasan yang memang masuk akal dan pewawancara akan tahu jika kamu memang benar-benar tertarik dengan profesi ini.

2. Bagaimana caramu agar selalu update dengan perkembangan berita terbaru?

Saya yakin bahwa saat ini, media sosial adalah salah satu sumber utama berita dan tren terbaru, jadi saya suka memerhatikan media sosial. Namun, terkadang tidak semua update di sana bernilai berita. Jadi, saya juga suka mengikuti berita terbaru dari beberapa sumber kredibel favorit saya, yaitu media A, B, dan C.

I believe that nowadays, social media is one of the main sources of news and trends, so I always keep my eyes on it. However, not all of the updates are news-worthy. That’s why I also try to keep up with my favorite credible news sources, such as A, B, and C by following their social meda and websites.


3. Topik apa yang paling menarik untukmu?


Topik tentang politik adalah favorit saya. Saya sudah tertarik dengan politik nasional dan internasional sejak kuliah. Di pekerjaan sebelumnya, berita tentang politik yang saya tulis berhasil mendapatkan traffic tertinggi selama 1 bulan. Meskipun begitu, saya yakin seorang jurnalis harus punya kemampuan menulis yang fleksibel. Itulah mengapa saya juga sangat bersedia untuk eksplor lebih banyak topik seperti lifestyle, travel, teknologi, dan lain-lain.

Politics related news is what intrigues me the most. I’ve been always interested in national and international politics since I was in college. During my previous job, my news articles about politics gained the highest traffic on the website for 1 months. However, I believe as a journalist, I need to have the ability to be flexible with my writing. Therefore, I am willing to explore and learn diverse range of topics such as lifestyle, travel, technology, etc.


4. Apakah kamu berani bertanya hal yang kurang nyaman kepada narasumber?

Seperti yang disebutkan oleh Indeed, reporter biasanya juga akan mendapatkan pertanyaan seperti apakah berani bertanya hal yang kurang nyaman kepada narasumber.

Tujuan dari melakukan interview dengan narasumber tentunya untuk mendapatkan informasi sejelas-jelasnya.

Reporter dituntut untuk selalu objektif dan berani bertanya secara terperinci mengenai topik yang sedang dibahas.

Bahkan ada saatnya reporter harus bertanya mengenai hal yang bisa membuat narasumber merasa kurang nyaman.

Jika pertanyaan untuk narasumber masih sopan dan tidak melanggar kode etik, tentunya pertanyaan tersebut boleh saja ditanyakan.

Namun, jika pertanyaan terlalu menyudutkan narasumber, hal itu bukanlah poin yang baik untuk dilakukan.

Jadi dalam menjawab pertanyaan ini kamu perlu berhati-hati karena dibutuhkan jawaban yang bijaksana. Contohnya seperti:

Untuk mendapatkan jawaban yang saya butuhkan, terkadang pertanyaan yang kurang nyaman tidak bisa saya hindari. Selama pertanyaan tersebut tidak melanggar kode etik, saya percaya pertanyaan tersebut harus tetap diberikan. Sebagai jurnalis, saya yakin hal ini perlu dilakukan demi membuat berita yang faktual, objektif, dan jelas.

To get the answers I need, sometimes uncomfortable questions are inevitable. As long as it does not violates the ethic codes, I believe the questions should be raised. We have to do that in order to produce factual, objective, and clear news for the public.

5. Bagaimana caramu menghadapi deadline yang ketat?

wawancara kerja reporter

© Freepik.com

Bagi seorang reporter pasti akan dihadapkan dengan deadline yang ketat. Tidak sedikit reporter yang mudah merasa stres karena deadline.

Pertanyaan ini pasti akan kamu dapatkan saat melakukan wawancara kerja untuk reporter. Maka, kamu harus mempersiapkan jawabannya dengan baik.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menenangkan diri saat menghadapi deadline yang ketat.

Dilansir dari blog Singular, kamu perlu menenangkan diri saat menghadapi tekanan seperti mengambil napas dalam-dalam dan mulai memprioritaskan pekerjaan.

Menghadapi deadline yang ketat memang bisa membuat kita kewalahan dan bahkan merasa stres saat bekerja.

Namun, saat mendapatkan pertanyaan seperti ini saat wawancara sebaiknya kamu ceritakan apa saja hal yang akan kamu lakukan untuk mengatasi stres akibat deadline. Contohnya:

Pertama-tama, saya selalu berusaha untuk lebih tenang dan menjernihkan pikiran supaya tidak stres. Kedua, saya akan mengatur kembali prioritas supaya bisa mengesampingkan tugas-tugas yang masih bisa ditunda. Selain itu, saya juga menjauhkan semua distraksi supaya bisa memaksimalkan waktu menyelesaikan tugas.

First of all, I would try to direct my focus to help me reduce my stress and clear my mind. Secondly, I would reprioritize my task so I knew which task I should finish first. Besides that, I usually put away any distractions so that I could maximize the time I had to finish all the tasks.

6. Apakah kamu bersedia menulis berita yang berpotensi merusak reputasi pihak tertentu?

Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan sederhana, karena rekruter berusaha menilai kompas moral yang kamu miliki.

Tidak ada jawaban yang salah untuk pertanyaan ini, selama kamu punya alasan logis dan masuk akal.

Apabila pernah mengalami hal ini di pekerjaan sebelumnya, kamu bisa ceritakan pengalaman tersebut dan bagaimana cara menghadapinya.

Berikut contoh jawabannya.

Di pekerjaan sebelumnya, saya pernah menginvestigasi satu kabar tentang seorang tokoh masyarakat daerah. Masyarakat setempat tentu mengaguminya karena ia telah melakukan banyak hal baik untuk mereka. Setelah menyelesaikan investigasi, saya yakin masyarakat berhak untuk mengetahui apa yang terjadi. Akhirnya, berita tersebut menghasilkan investigasi lanjutan dan ia terbukti bersalah.

At my previous job, I had to investigate the story about this one local public figure. The local people absolutely adored him because he also had done a lot of good things for them. After completing the investigation, I believed that the local people deserved to know what they were doing. The article I wrote finally led to further investigation and he was proven guilty.

7. Kualitas reporter seperti apa yang menurutmu penting?

Pertanyaan wawancara kerja reporter selanjutnya adalah mengenai kualitas seorang reporter.

Pewawancara ingin mengetahui capaian kerja atau karakteristik apa yang menjadi patokanmu.

Untuk menjawab pertanyaan ini, kamu bisa sebutkan semua kualitas penting seorang reporter yang kamu ketahui.

Mulai dari skill, pengetahuan, hingga sikapnya.

Namun, hanya sebutkan kualitas yang relevan dengan posisi reporter, ya. Berikut contoh jawabannya:

Reporter yang baik harus mampu mengikuti kode etik jurnalisme dan memiliki kemampuan berpikir kritis. Selain itu, mereka juga harus memiliki kemampuan melakukan investigasi dan menulisnya menjadi sebuah tulisan yang bernilai berita dan layak disajikan kepada publik.

A good reporter should be able to strongly follow journalism ethic and be critical to ask meaningful questions. Besides that, they also have to be skilled in investigating a story and able to write news worthy and presentable stories to the public.

8. Apa tantangan terbesar yang pernah kamu hadapi di pekerjaan sebelumnya?

Sebagai reporter, kamu pasti akan menghadapi berbagai situasi berbeda dan tantangan yang cukup berat setiap harinya.

Nah, pewawancara ingin mengetahui sejauh mana kemampuanmu dalam mengatasi tantangan tersebut.

Kamu perlu menjelaskan mengapa kejadian tersebut termasuk ke dalam tantangan terbesarmu.

Setelah itu, kamu bisa jelaskan langkah-langkah apa yang kamu ambil untuk melewati hambatan yang kamu pernah hadapi.

Berikut contoh jawabannya.

Tantangan terbesar selama pengalaman kerja sebelumnya adalah ketika melakukan live report di lokasi bencana alam. Kami mengalami banyak sekali kendala teknis dan beberapa kali koneksi dengan studio pun terputus. Saya berusaha tetap tenang karena rasa panik hanya akan memperburuk keadaan. Setelah koneksi kembali, saya melanjutkan laporan dengan lancar.

My major challenges during my previous work was when I had to do a live report with in the location of natural disaster. We had a lot of technical difficulties and we lost the connection to the studio in the middle of it. I tried to stay calm because panicking would not help at all. After getting the connection back, I continued the reporting smoothly.

9. Deskripsikan keseharianmu sebagai reporter

Untuk pertanyaan wawancara kerja reporter yang satu ini, kamu bisa langsung menguraikan tugas harianmu sebagai reporter di tempat kerja sebelumnya.

Tak perlu terlalu detail, yang terpenting kamu bisa menonjolkan tugas utama yang kamu kerjakan.

Tips untuk menjawabnya adalah kamu harus jujur dan tak perlu melebih-lebihkan, apalagi berbohong mengenai sesuatu yang sebenarnya tak kamu kerjakan.

Rekruter pasti bisa merasakan bahwa kamu berbohong, apalagi ketika mereka menggali jawabanmu lebih dalam lagi.

Berikut contoh jawaban yang bisa kamu pelajari.

Tugas harian saya di antaranya adalah pergi ke lokasi suatu insiden atau kejadian yang harus diliput. Saya menemui para saksi, narasumber, atau ahli dan mewawancarai mereka untuk tahu apa yang terjadi. Setelah itu, saya mengolah hasil wawancara dan juga observasi tersebut menjadi berita. Sebelum diserahkan pada editor, saya pasti memeriksa kembali untuk memastikan bahwa tidak ada kesalahan.

My daily tasks include coming to the locations where events and incidents happened. I approached and interviewed local people, witnesses, and experts about what was going on. After that, I turned those interviews and observations into news stories. Before handing it to the editor, I proofread my drafts to correct any mistake.

10. Deskripsikan pengalaman ketika kamu gagal atau melakukan kesalahan sebagai reporter

Wah, pertanyaan yang satu ini terdengar cukup sulit untuk dijawab, ya. Haruskah kamu menjelek-jelekkan dirimu sendiri dengan mengakui bahwa kamu pernah melakukan kesalahan?

Kamu perlu memahami bahwa rekruter juga tahu bahwa kamu adalah manusia biasa.

Sangat tidak realistis apabila kamu justru memilih untuk menjawab bahwa kamu tidak pernah gagal dan melakukan kesalahan.

Jadi, jawab saja dengan jujur.

Akan tetapi, kamu juga harus menjelaskan apa pengalaman yang kamu petik dari kejadian tersebut dan bagaimana kamu saat ini sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Contoh jawaban:

Ada saat di mana saya tidak bisa fokus dan melewatkan detail kecil. Salah satu berita yang saya buat ternyata memuat informasi yang kurang tepat. Akhirnya, followers di media sosial berbondong-bondong mengkritik. Kami langsung memperbaikinya dan saya menulis permintaan maaf serta klarifikasi. Pengalaman ini mengajarkan saya untuk selalu riset secara mendalam dan memperhatikan apa yang sedang dikerjakan.

There was a time where I was not able to stay focus and did not pay attention to the details. One of the news article I published contain false information. Our followers were calling us out and we fixed the information right away. I also wrote an apology and clarification for our audiences. This experience taught me to be mindful in everything I do and how research is very crucial.























Comments